Teken MoU, Dispar Banten Optimis Geliat Industri Wisata di Banten Melejit

Teken MoU, Dispar Banten Optimis Geliat Industri Wisata di Banten Melejit

Pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan industri pariwisata Banten. Salah satunya dengan menggelar Forum Bisnis Pariwisata yang digelar pada Senin-Selasa (21-23) Oktober 2019, di Kota Serang. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh Dinas Pariwisata Jawa Barat dan ASITA Jawa Barat. Termasuk Dinas Pariwisata Lampung, ASITA Lampung, ASITA Sumatera Selatan, dan ASITA Bali. Forum dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy.

Dalam kesempatan tersebut, Dinas Pariwisata Provinsi Banten melakukan penandatanganan belasan MoU (memorandum of understanding) atau kesepakatan kerjasama dengan sejumlah stake holder atau pemangku kebijakan pariwisata, baik dari Provinsi Banten sendiri, maupun dari luar daerah. Penandatanganan MoU dari pihak Dispar Banten dilakukan oleh Kepala Dispar Banten Eneng Nurcahyati dan disaksikan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy.

Dalam MoU pertama bersifat promosi pariwisata dilakukan dispar berturut-turut dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, The Royal Krakatau Hotel Cilegon dan dengan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak.  Berikutnya MoU terkait dengan kerjasama industri kreatif, berturut-turut dilakukan dispar dengan BNI KCU Serang (fasilitasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat, dengan bjb KCU Serang (pelaku usaha industri pariwisata), dengan Hotel Golden Tulip Essential Tangerang (pengadaan produk UMKM) dan dengan Swis Bell In Hotel Cikande (pemasaran produk ekonomi kreatif). Kemudian, 5 MoU dilakukan dispar dengan ASITA (association Indonesia tour and travel agency) berturut-turut dari Bali, Jakarta, Lampung, Sumsel dan Jabar. Kelima MoU tersebut terkait dengan kerjasama peningkatan kunjungan wisatwan ke Banten.

Strategi Pariwisata

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengatakan, selain pembuat kebijakan, pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator terhadap pengembangan 3 unsur utama pembangunan kepariwisataan yaitu aksesibilitas, amenitas dan atraksi.

Peranan pemerintah daerah sebagai fasilitator atau entrepreneur di bidang pariwisata, kata wagub, pada hakikatnya adalah karena hanya pemerintah daerah yang dapat membiaya semua pembangunan yang terkait dengan penyiapan dan pengadaan ketiga unsur utama pembangunan kepariwisataan tersebut.

“Sementara kehadiran swasta atau perusahaan umum (pengelola) pariwisata hanya sebagai pelengkap yang hanya mau berinvestasi jika wadahnya sudah disediakan oleh pemerintah,” ujarnya.

Berdasarkan hal tersebut, lanjutnya, dapat diketahui bahwa pembangunan pariwisata pada awalnya diinisiasi oleh pemerintah daerah. Baru kemudian partisipasi sektor swasta mulai bermunculan seiring dengan adanya komitmen total dari pemerintah daerah terhadap suatu destinasi yang akan dijadikan objek wisata.

Andika meyakini, peranan atau keterlibatan pemerintah daerah, tidak hanya sekadar menyiapkan berbagai infrastruktur terkait atraksi, aksesibilitas dan amenitas tapi juga terlibat secara langsung dalam pengembangan sektor pariwisata tersebut.

“Pemerintah daerah bersama-sama stakeholder pariwisata perlu mempersiapkan dan merencanakan dengan matang setiap objek wisata yang memiliki potensi atraksi yang mampu menyedot banyak wisatawan yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi informasi saat ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati mengatakan, kegiatan ini adalah program tahunan yang sudah memasuki tahun ketiga. Pertama kali digelar di Tanjung Lesung, kemudian yang kedua dihelat di Green Garden Anyer.

Forum Bisnis Pariwisata bertujuan untuk mengembangkan bisnis pada sektor parwisata, khususnya di Banten. Selain itu, untuk menghidupkan peluang bisnis usaha pariwisata dengan membangun jejaring dengan steakholder pariwisata Banten dan luar Banten.

“Kita akan menyusun strategi promosi wisata melalui pendekatan produk wisata yang berdaya saing.  Ada empat aspek yang harus diperhatikan dalam menorong pertumbuhan pariwisata, yakni aspek produk wisata yang berdaya saing, branding, sistem informasi wisata berbasis digital dan kerjasama kelembagaan,” jelasnya saat menyampaikan laporan.[]

Share :