Ekoturisme Cara Pariwisata Bantu Merawat Alam

Ekoturisme Cara Pariwisata Bantu Merawat Alam

Keindahan alam menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyumbang 40 persen, sebagai hal yang disukai oleh wisatawan. Artinya, keindahan alam bisa saja sirna bila manusia tak merawat. Sementara pariwisata terkadang mengabaikan hal itu. 

Overtourism tengah mengancam destinasi ikonik semisal Wakatobi dan Pulau Komodo. Lalu apa solusinya? World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia memandang dalam konteks wisata alam, ekoturisme merupakan potensi yang perlu dikembangkan. "Ada kesadaran untuk tidak menambah beban lingkungan," kata Direktur Konservasi WWF Indonesia Lukas Adhyakso, Kamis, 21 November 2019.

Saat ini, WWF-Indonesia memandang ekoturisme yang diminati turis masih dalam aspek bahari. Sedangkan ekoturisme, semisal menjelajahi hutan masih cenderung memerlukan minat khusus, bukan hanya sekadar keterampilan. "Misalnya mau enggak berkemah di hutan yang gelap. Nah, itu potensinya berbeda dengan di laut," ujarnya

Semisal, ia mencontohkan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Aktivitas menyelam di kawasan perairan Pulau Komodo termasuk digemari wisatawan yang berkunjung. Namun, kunjungan turis harus dipantau agar tidak melebihi kapasitas lingkungan.

"Kalau penyelam atau (aktivitas) kapal yang mondar-mandir terlalu banyak sudah mengganggu kehidupan satwa air," katanya.

Menurut dia, hal itu perlu berkaitan dengan ekoturisme wawasan lingkungan dalam menerima tamu. "Edukasi dari pemandu dengan prinsip kelestarian lingkungan," tuturnya.

Adapun untuk aktivitas yang menunjang ekoturisme di kawasan Taman Nasional Komodo, WWF Indonesia ikut membantu pemantauan. "Memonitor adanya limbah plastik itu dilakukan oleh masyarakat. Kami menyebutnya citizen science," katanya.[]

Share :