Penguatan Industri Pariwisata RI: Pemanfaatan Pengalaman Digital Jadi Kunci

Penguatan Industri Pariwisata RI: Pemanfaatan Pengalaman Digital Jadi Kunci

Pemanfaatan pengalaman digital melalui teknologi artifisial menjadi salah satu kunci utama menarik minat wisatawan pada tahun depan.

Riset yang ditulis oleh Mark Meehan dan Raymond Setokusumo yang diterbitkan oleh Travelport menyebutkan, salah satu hal yang patut dipertimbangkan oleh pelaku usaha pariwisata dalam menarik minat wisatawan adalah personalisasi pengalaman yang dipadukan dengan teknologi terbaru. Langkah itu menjadi salah satu peluang yang dapat dipertimbangkan dalam mengembangkan bisnis wisata berbasis pengalaman.

Teknologi memegang kunci untuk membuka potensi signifikan dalam industri pariwisata, terutama dalam memberikan pengalaman baru bagi wisatawanTiap hari, kemajuan baru menghadirkan peluang baru untuk memberikan nilai yang juga baru,” seperti dikutip dari riset Travelport, Rabu (11/12/2019).

Adapun, bisnis pariwisata berbasis pengalaman sejatinya bukan hal yang baru. Namun, besarnya potensi di sektor tersebut yang mencapai US$9 triliun secara global, menjadikannya ceruk bisnis yang menarik.

Travelport mencontohkan, bagaimana Singapore Tourism Board membuat simulasi yang memungkinkan wisatawan yang transit di Bandara Changi mengambil tempat duduk di atas becak tradisional, dengan mengenakan alat virtual reality. Di wahna terse but, para wisatawan diajak melakukan tur virtual Singapura  lengkap dengan elemen 4D seperti aroma dan kabut  tanpa harus meninggalkan bandara.

Hal serupa dilakukan oleh EatWith memungkinkan wisatawan makan bersama penduduk setempat di rumah mereka di beberapa negara  seperti Kamboja dan China. Sementara itu, Airbnb Experiences memungkinkan wisatawan memesan semuanya, mulai dari menghadiri upacara minum teh dengan para biksu di Taiwan hingga bermain sepak bola dengan penduduk setempat di Hanoi.

Selain itu, menurut riset Travelport, tiga perempat (75%) dari wisatawan di Asia Pasifik mengaku secara aktif mempertimbangkan maskapai penerbangan yang mampu menawarkan pengalaman digital yang baik ketika melakukan pemesanan.  Porsi terse but menunjukan kenaikan sebesar 13% dalam dua tahun.

Di sisi lain, terdapat pula permintaan signifikan dari para wisatawan di Asia Pasifik untuk menikmati pengalaman virtual dan augmented reality.  Adapun sekitar 61% dari wisatawan kawasan tersebut mempercayai teknologi ini akan membantu mereka merencanakan perjalanan dengan lebih baik.

Selain itu, 70% dari wisatawan di Asia Pasifik telah menggunakan pencarian suara untuk membantu mengatur perjalanan mereka. Jumlah tersebut dua kali lebih banyak dibandingkan dengan Eropa.

“Saat melakukan riset untuk perjalanan, lebih 83% wisatawan di Indonesia telah meninjau video dan foto yang diunggar oleh pelaku usaha sektor pariwisata di media sosial. Persentase ini menjadi yang tertinggi di dunia dengan 23% lebih tinggi dari rata-rata di dunia,” ujar Raymond Setokusumo, Director Galileo Indonesia yang menjadi operator Travelport.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani mengatakan pemanfaatan teknologi telah menjadi keniscayaan di sektor pariwisata. Dia pun mengakui belum banyak pelaku usaha pariwisata di Indonesia yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan pengalaman baru bagi wisatawan.

“Sejauh ini pemanfaatan teknologi di sektor pariwisata paling banyak dilakukan oleh agen perjalanan dan pemesanan hotel online. Namun pemanfaatan teknologi untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih dalam belum banyak dimanfaatkan. Tentu hal ini harus menjadi catatan bagi kita pelaku pariwisata nasional,” katanya.

Dia mengatakan selama harga tiket pesawat masih mahal, industri pariwisata Indonesia masih akan sulit tumbuh secara maksimal. Namun, apabila para pelaku usaha dapat menawarkan pengalaman baru seperti pemanfaatan teknologi virtual reality dalam melakukan pariwisata, hal itu akan menimbulkan ketertarikan bagi wisatawan kendati harga tiket pesawat masih mahal.

Ketua Asosiasi Travel Agen Indonesia (Astindo) Elly Hutabarat menyebutkan Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga dalam memanfaatkan teknologi secara lebih jauh sebagai wahana wisata bagi wisatawan. Selain tertinggal dari Singapura Indonesia bahkan tertinggal dari Thailand yang selama ini menjadi pesaing utama Ri dalam mengembangkan industri pariwisata.

“Kita masih banyak berkutat pada pemanfaatan keindahan alam sebagai daya tarik pariwisata. Padahal jika kita mampu memadukannya dengan teknologi, tentu akan memberikan warna baru di industri pariwisata kita,” katanya.

Adapun, berdasarkan laporan Travelport, industri pariwisata Indonesia memiliki nilai lebih dari US$60 miliar dan menjadi salah satu negara paling menjanjikan di Asia Pasifik. Pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata mencapai 7,8%  pada 2018, lebih tinggi dari total pertumbuhan ekonomi nasional.[] 

Share :