Seba Baduy dan Wasiat Para Leluhur

Seba Baduy dan Wasiat Para Leluhur

Tradisi Seba Baduy bukan cuma soal menyerahkan hasil pertanian secara sukarela saja sebagai ucapan syukur dan bentuk silaturahmi. Ada wasiat yang juga ikut menyertainya. Wasiat ini biasanya disampaikan oleh Puun berdasarkan wangsit yang mereka terima dari leluhur.

Jangan bayangkan wasiatnya berbentuk surat yang berisi pembagian harta gono-gini, seperti yang bisa kamu temukan dalam film-film roman picisan di layar kaca. Wasiat yang disampaikan Puun Baduy punya makna yang lebih dalam.

Secara garis besar, wasiat tersebut biasanya mengingatkan pemerintah untuk senantiasa menjaga kelestarian alam. Namun secara implisit, tanpa disadari, karena menggunakan syair lama dan dinyanyikan seperti langgam, tidak semua orang dapat memahami arti dari wasiat tersebut, hingga kecolongan dan tak punya cara menanggulangi petaka.

Menurut penuturan Imam, sering kali wasiat yang disampaikan Urang Kanekes saat Seba memiliki keterikatan dengan kejadian-kejadian di masa mendatang. Oleh sebab itu, wasiat dari mereka akan selalu disampaikan pada bupati dan gubernur agar bisa menjadi catatan, serta mengambil sikap.

Salah satu contohnya adalah kejadian tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu. Tsunami yang menewaskan 437 orang dan meluluhlantakkan Tanjung Lesung dan pesisir Lampung itu nyatanya sudah pernah diramalkan oleh masyarakat Baduy, walaupun tidak disampaikan secara gamblang.

Penyampaiannya pun tak sembarangan, ada ritual penyampaiannya tersendiri. Bahasa Sunda yang dipakai juga merupakan bahasa lama yang hanya dipahami oleh tetua-tetua adat. Prosesi penyampaian wasiat tersebut menjadi sesi dialog bagi Urang Kanekes bersama dengan pemerintah daerah dengan tujuan menjaga lingkungan, terutama alam, agar tetap lestari.

“Bahasa kita, kan, megatra. Kalau bahasa mereka hati-hati, ada sejarah ceritanya. Daerah ini nanti harus dicuci sama air garam. Kayak-kayak bahasa itu, sepele, tapi pas ada kejadian, dicuci air garam, berarti ternyata air laut masuk ke daratan. Jadi, untuk menyucikan lagi masyarakat, ceunah. Harus dicuci, pembersihannya harus mandi dengan air garam,” Plt Kadispar Lebak, Imam ketika berbincang dengan kumparan.

Upeti vs Ucapan Syukur

Di masa lalu, terutama pada masa klasik saat Indonesia terdiri dari berbagai macam kerajaan, ada upeti yang mesti dipersembahkan oleh satu pihak ke pihak lainnya sebagai bukti kesetiaan dan tunduk pada pihak yang lebih berkuasa. Upeti memiliki sifat yang wajib, sehingga pada masa lampau, tanpa upeti, kerajaan tidak bisa bertahan, apalagi besar.

Asep Kambali menceritakan bahwa upeti biasanya dibawakan oleh masyarakat bagi penguasa setempat dengan dikoordinir oleh pihak tertentu. Sebagai imbalannya, penguasa biasanya akan menjaga kawasan tersebut.

Sepintas, tradisi Seba mungkin tampak seperti prosesi penyerahan upeti seperti yang terjadi di masa lalu. Lantas, apakah tradisi Seba di masa kini yang berupa pengucapan syukur merupakan bentuk penyerahan upeti yang telah mengalami transisi makna?

Asep Kambali sendiri tak dapat memastikannya, hanya saja, menurutnya sebuah tradisi tidak akan muncul tanpa ada inisiatif atau orang yang menginisiasi. Dalam hal ini, yang mungkin menginisiasi Seba Baduy adalah Penggede.

“Penggede itu orang yang ditokohkan, orang yang dianggap memiliki kekuasaan, orang yang disegani, dan tradisi berbagi seperti itu kan beda konteksnya dengan sistem tanam paksa. Kalau yang ini seikhlasnya, serelanya, jadi bukan sebanyak-banyaknya dikasih, tapi serelanya. Masyarakat mau ngasihnya sekian, ya diberikan,” ujarnya menjelaskan.

Perbedaan inilah yang menjadikan tradisi Seba Baduy berbeda dengan proses penyerahan upeti di masa lalu atau ketika sistem tanam paksa (cultuurstelsel) ditetapkan Van den Bosch pada 1831 silam. Karena hasil bumi yang diberikan dalam Seba pun tidak memiliki aturan kuatitas, beda dengan sistem tanam paksa yang membuat masyarakat pribumi nyaris tak kebagian hasil.

Kang Asep meyakini bahwa walaupun dulunya mungkin tradisi Seba ini diawali sebagai prosesi penyerahan upeti bagi penguasa, masyarakat Baduy sejak dulu kala sudah menganggap tradisi ini sebagai bentuk ucapan rasa syukur. Bukan hanya melalui hasil alam yang mereka persembahkan, tapi juga kerelaan dan keikhlasan mereka.

“Dilihat dari tradisi, dari sejarah, gitu ya, memang kondisi Baduy ini punya nilai-nilai yang dipegang teguh. Jadi, yang dulunya mungkin sesuatu yang diwajibkan oleh penguasa, kalau pun dulu dianggap sebagai upeti, saya yakin orang Baduy juga tetap menganggap itu sebagai rasa syukur,” pungkasnya.[]

 

Sumber: Kumparan.com

Share :