Kemenpar Dukung Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara ke-V, 27-28 Juli

BY

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung Forum Raja, Sultan, Datu dan Ratu yang akan mengadakan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Raja dan Sultan Nusantara ke-V di Gedung Nusantara DPR RI , 27-28 Juli 2017 mendatang. 

Rencananya forum silatnas itu akan dihadiri 243 Raja dan Ratu se-Indonesia dan sudah termasuk bangsawan dari internasional seperti Amerika Serikat, Miami, Florida, Jerman, Rusia, Korea.

“Kita beruntung memiliki kesultanan dan kerajaan yang banyak. Kesultanan dan kerajaan itu sudah pasti memiliki budaya Adilihung yang tinggi. Itu yang ingin kita lestarikan,” ujar Ketua Pokja Tim Percepatan Borobudur Hari Untoro Drajat saat jumpa pers persiapan Silatnas V di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Gedung Kemenpar, Selasa (11/7).

Beragam kesultanan dan kerajaan dari masing-masing punua budaya adiluhung yang tinggi. Seluruhnya memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi nilai tambah tersendiri bagi turis pecinta budaya.
 
Itu baru berbicara tentang keberagaman suku dan etnis semata. Produk budaya yang berbentuk karya seni lebih banyak lagi. Ada Batik, Tari Kecak , Gamelan, umumnya sukses menghipnotis wisatawan pencari keindahan budaya Nusantara.
 
Karya arsitektur masa lampau seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, serta tempat-tempat ibadah seperti Pura dan Klenteng, juga menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat lokal dan turis mancanegara. Keanekaragaman dan kekhasan budaya Indonesia inilah yang berhasil menarik jutaan wisatawan domestik maupun asing. 

“Faktor nomor satu memang turis masih mencari budaya. Menurut World Tourism Organization, wisatawan yang berkunjung ke Indonesia itu 60% karena  budaya 35% karena alam dan manmade 5%,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Hari Untoro yang juga pernah menjabat sebagai staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar menjelaskan, pelestarian budaya bukan hanya pada bangunan saja, tapi juga pengembangan dan pemanfaatan budaya, sehingga ada nilai-nilai yang bermanfaat.  

“Kita memiliki kebudayaan beragam, ada kesultanan seperti Jogja, Solo atau Palembang dan punya museumnya punya aktivitas masing-masing. Peninggalan bangunan kesultanan atau keraton menjadi bagian dari atraksi dan menjadi tarik bagi wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Indonesia, serta untuk dikenalkan kembali sejarah dan budaya kita” ujar Hari.

Sementara itu Sekjen Badan Pengurus (BP) Silatnas Raja dan Sultan Nusantara, Upu Latu M.L Benny Ahmad Samu-Samu mengatakan, agenda Silatnas V-2017 Raja dan Sultan Nusantara antara lain melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) untuk memilih Sekjen BP Silatnas Raja dan Sultan Nusantara Indonesia periode 2017-2022 serta pendeklarasian wadah tunggal Raja Sultan Datu dan Ratu Nusantara Indonesia. Pada kesempatan itu akan disampaikan pandangan umum perwakilan raja dan sultan di antaranya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

"Tujuan komitmen kami yang utama, untuk mengembalikan sejarah yang ada di nusantara kepada sekolah-sekolah dari tingkat SD sampai SMA. Karena selama ini sudah berkurangnya nilai-nilai atau persentase pemberian pelajaran tentang nilai sejarah. Sedangkan sejarah itu sendiri, suatu identitas bangsa yang tidak bisa dikurangi yang mestinya harus kita expose," ujarnya.

Benny mengatakan, terkait undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Untuk selanjutnya disingkat UUPA). yang memberikan Perlindungan kepada hukum adat, Pihaknya meminta pemerintah untuk melibatkan para raja dan sultan dalam penyusunan hingga pengesahan rancangan undang-undang tersebut.

"Kami juga mendorong pemerintah untuk diberikan pemberdayaan ekonomi baik untuk masyarakat yang ada di dalam Keraton, istana serta kerajaan. yang berada dilingkungan maupun di wilayah keraton untuk sendiri. Selama ini memang ada pemberdayaan, tetapi belum semua. Seperti Solo Jogja kemudian Ternate barulah masuk tahun 2009 keraton di Cirebon," ujarnya.
 
Kegiatan Silatnas V tahun 2017 Raja dan Sultan Nusantara ini akan diikuti sekitar 600 peserta terdiri atas raja, sultan, datu, ratu,  termasuk pewaris dan penerus kerajaan dan kesultanan serta kedatuan, permaisuri, putra-putri dan pangeran dari kerajaan, kesultanan, kedatuan, perwakilan bangsawan internasional, pejabat tinggi negara, duta besar negara sahabat,  budayawan, sejarahwan, dan mahasiswa.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun ikut menyambut baik forum Silatnas ini. Mantan Dirut Telekom itu mengatakan jika budaya itu harus dilestarikan. Menpar punya contoh di alam. “Ikan yang dilihat akan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar daripada ikan yang ditangkap. Ikan sekali tangkap, selesai. Ikan semakin dipelihara, dilihat orang, akan mendatangkan devisa,” kata dia[]

Sumber : http://nasional.indopos.co.id

Hubungi Kami


Statistik Kunjungan


Kontak Kami