Kadispar Banten: Pelaku Ekraf Harus Bisa Beradaptasi dengan Kenormalan Baru

Kadispar Banten: Pelaku Ekraf Harus Bisa Beradaptasi dengan Kenormalan Baru
Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Banten meminta pelaku ekonomi kreatif (ekraf) untuk bisa mengembangkan ide-ide agar bisa beradaptasi dengan situasi pandemi Covid-19.

Diketahui, selama kurun waktu sembilan bulan melandanya pandemi Covid-19 sangat berimbas pada perkenomian masyarakat. Tak terkecuali para pelaku ekraf yang juga sempat terpuruk.

Kepala Dispar Provinsi Banten, M Agus Setiawan mengatakan, adanya pandemi Covid-19 tidak lantas membuat pelaku ekraf patah semangat. Dirinya juga mengaku, pihaknya terus mendorong pelaku ekraf dapat mengambangkan ide-ide kreatif agar usaha mereka tetap bertahan.

“Kalau saya melihat mereka punya semangat menggapai ide-ide untuk menyesuaikam dengan kondisi saat ini. Kami juga terus memberikan support agar para pelaku ekraf dapat bisa berkembang,” kata Agus kepada BantenNews.co.id, Sabtu (14/11/2020).

Pihaknya juga meyakini, pandemi Covid-19 bukan menjadi penghalang industri kreatif di Banten untuk bisa berkembang.

“Kami yakin ekonomi kreatif bisa lebih maju. Karena dengan adanya Covid bisa mengeluarkan ide baru. Yang tadinya pada saat jualan secara ga terpikir jualan online, tapi adanya keterbatasan sehingga timbul ide lewat daring (dalam jaringan),” katanya.

“Insya Allah (lebih maju), dan kalau saya melihat konsumennya justru meningkat. Yang sekarang dilaksanakan cara baru, tapi hal itu juga bisa diterapkan setelah masa pandemi berakhir dan itu ngga jadi masalah,” sambungnya.

Selain itu, lanjut Agus, Dispar Provinsi Banten juga terus memberikan pembinaan. Hal itu merupakan upaya pemerintah dalam memberikan motivasi agar pelaku ekraf bisa bertahan dan berkembang.

“Kita motivasi terus. Kita juga memfasilitasi kegiatan-kegiatan mereka, seperti baru-baru ini kita fasilitasi kegiatan komunitas melalui lomba gelar karya ekonomi kreatif 2020,” ujar Agus.

Agus menerangkan, dalam lomba tersebut disesuaikan dengan protokol kesehatan Covid-19. Bahkan untuk lomba kuliner yang biasanya para peserta dan juri satu lokasi yang bersamaan, namun kali ini perlombaan dilakukan secara daring.

“Lomba kuliner itu hanya dilihat dari bagaimana cara menyajikan, memasak di tengah pandemi yang sesuai dengan protokol kesehatan seperti pakai masker. Sedangkan untuk citarasa pada perlombaan itu tidak ada penilaiannya,” terangnya.

Informasi yang dihimpun, lomba tersebut diikuti sebanyak 40 peserta dari enam komunitas.[]


Share :