Kekebalan Kelompok Diyakini Pulihkan Sektor Pariwisata

Kekebalan Kelompok Diyakini Pulihkan Sektor Pariwisata
Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron menyatakan terciptanya herd immunity atau kekebalan kelompok akan memulihkan kinerja sektor pariwisata di berbagai destinasi wisata populer seperti di Bali. Ujungnya diharapkan memberi efek positif terhadap perekonomian Indonesia.
 
"Ketika Bali sudah bisa fokus vaksin yang membentuk kekebalan kelompok, kemudian Indonesia dinyatakan sebagai negara yang bisa mengendalikan covid-19, dipastikan bahwa wisatawan akan kembali segera datang," kata Herman Khaeron, dilansir dari Antara, Kamis, 18 Februari 2021.
 
Herman menekankan pentingnya pemanfaatan vaksin covid-19 yang kemudian dapat membentuk kekebalan komunitas terhadap kondisi pandemi ini. Kemudian, ia mengutarakan harapannya agar kekebalan komunitas dapat direalisasikan dengan cepat. Penanganan covid-19 melalui vaksin, lanjutnya, khususnya Bali bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk kembali berkunjung.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho mengutarakan harapannya agar pemerintah pusat dapat memberikan bantuan pendanaan proyek infrastruktur dalam pemeliharaan dan pengembangan desa wisata di Bali.
 
"Tentunya infrastruktur yang sifatnya padat karya, yang dapat menyerap tenaga kerja di masyarakat, sehingga mereka bisa tetap bekerja di tengah kondisi pandemi covid-19," kata Trisno Nugroho.
 
Proyek infrastruktur di desa wisata yang dimaksud seperti akses untuk jalan kaki, saluran air, tempat cuci tangan, hingga sarana ticketing. Menurutnya pengembangan desa wisata setidaknya mempertimbangkan tiga hal, yaitu aspek 3A dan 2P.
 
Untuk 3A yaitu Accessibility (akses pedestrian atau saluran air), Amenities (fasilitas toilet), dan Attractiveness (atraksi seni oleh sanggar atau komunitas setempat). Sedangkan 2P itu yakni People (SDM harus dilatih soal CHSE) dan Promotion (promosi lewat sosial media).
 
"Kedua, dengan adanya pandemi covid-19, perlu diperhatikan implementasi aspek CHSE yaitu kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan," ujar Trisno
 
Ketiga, perlu didukung dengan integrasi digitalisasi, termasuk dalam sistem pembayaran (ticketing dengan QRIS) dan pendataan pengunjung. Trisno berpandangan, dengan sejumlah upaya tersebut, Bali tetap dapat memelihara desa wisata yang dimiliki, yang hingga saat ini jumlahnya sudah sekitar 155 desa, tersebar di sembilan kabupaten/kota di Bali.[]
Share :