Kemenparekraf Dorong Penguatan Peran Ekonomi Syariah dalam Pengembangan Sektor Parekraf

Kemenparekraf Dorong Penguatan Peran Ekonomi Syariah dalam Pengembangan Sektor Parekraf
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendukung pengembangan keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia dalam upaya meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkualitas dan berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, terutama dalam menggerakkan kembali roda ekonomi dengan kembali terbukanya lapangan kerja.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, dalam kegiatan "Sosialisasi Strategi Brand Ekonomi Syariah" yang digelar secara daring, Rabu (4/8/2021), mengatakan, keuangan dan ekonomi syariah merupakan tren global yang memiliki potensi untuk berkembang dengan pesat di Indonesia.

"Saya lihat sendiri, ekonomi syariah ini market-nya besar, banyak ruang untuk berkembang," kata Menparekraf Sandiaga Uno.

Ia pun mengajak peran aktif dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk dapat bersama mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkualitas. Serta mengembangkan pariwisata yang ramah muslim dan ramah keluarga.

"Wisata ramah muslim ini bukan berarti islamisasi destinasi wisata. Melainkan ini adalah suatu extended services (layanan tambahan) yang ramah untuk semua orang dan menjadi inovasi yang dapat menambah peluang usaha dan membuka lapangan kerja," katanya.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo, menjelaskan, keuangan dan ekonomi syariah di era globalisasi berkembang pesat seiring dengan meningkatnya populasi masyarakat muslim dunia. Selain itu juga karena meningkatnya kesadaran masyarakat akan kegiatan ekonomi perbankan yang halal dan dengan konsep "kebaikan yang universal dan humanis".

Fadjar mengatakan, pertumbuhan muslim friendly business ini juga terjadi di sektor ekonomi kreatif, terutama di subsektor fesyen, kuliner, dan kriya. “Maka jika kita berbicara tentang kuliner, fesyen, dan kriya, tidak mungkin tidak beririsan dengan produk-produk halal. Begitu pula dengan hotel dan biro perjalanan wisata,” kata Fadjar.

Untuk itu, lanjut Fadjar, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Kemenparekraf dan pihak-pihak terkait perlu memanfaatkan konten-konten media seperti buku, musik, film, games, dan aplikasi digital untuk memperluas publikasi dan sosialisasi dari brand keuangan dan ekonomi syariah. “Digitalisasi ini memang sedang terjadi dan pandemi COVID-19 ini menjadi akselerator dari percepatan digital. Jadi kita perlu cara-cara kekinian untuk mensyiarkan dan mempublikasikan brand keuangan dan ekonomi syariah,” katanya.

Industri halal, kata Fadjar, memiliki kaitan yang sangat erat dengan protokol kesehatan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental sustainability) yang tengah digaungkan oleh Kemenparekraf/Baparekraf. Selain itu, Kemenparekraf/Baparekraf juga memiliki program-program yang mendukung pengembangan, sosialisasi, dan edukasi dari keuangan dan ekonomi syariah.

“Kami punya Modest Fashion Funders Fund yang merupakan sebuah pitching forum yang mempertemukan startup-startup fesyen muslim dengan para investor. Kita juga punya program temu bisnis perbankan syariah dan kelas keuangan syariah,” ujar Fadjar.

Fadjar juga mengajak KNEKS untuk bersama-sama meningkatkan pengembangan brand keuangan dan ekonomi syariah, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Di sisi pariwisata, berdasarkan Global Muslim Travel Index 2021, Indonesia berada di peringkat keempat. Sebelumnya kita berada di peringkat satu, jadi ini jadi cambuk bagi kami di Kemenparekraf untuk kembali meningkatkan peringkat kita di Global Muslim Travel Index ini dan kami juga mohon dukungan dari KNEKS,” ungkap Fadjar.

Sementara itu, Direktur Utama KNEKS, Ventje Rahardjo, mengatakan Indonesia punya potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia. Namun, literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai keuangan dan ekonomi syariah masih terbilang rendah.

“Untuk menuju ke sana masih banyak tantangan, masih sedikit masyarakat kita yang mengetahui apa itu ekonomi dan keuangan syariah. Oleh karena itu, kita ingin mendorong agar literasi ini semakin kuat,” kata Ventje.

Turut hadir dalam acara ini Deputi Bidang Pemasaran kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya; Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani; Direktur Komunikasi Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Martini M. Paham; dan Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf/Baparekraf, Alexander Reyaan.
Share :