Masuk 50 Besar ADWI, Desa Wisata Sukarame Diharapkan Picu Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Masuk 50 Besar ADWI, Desa Wisata Sukarame Diharapkan Picu Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Desa Wisata Sukarame di Kabupaten Pandeglang, Banten, masuk dalam 50 besar Desa Wisata Terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, berharap raihan positif tersebut dapat memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat dan Kabupaten Pandeglang pada umumnya.

"Bagi seluruh desa-desa wisata di kabupaten Pandeglang, khususnya Desa Wisata Sukarame, jadikan pencapaian ini sebagai motivasi untuk terus meningkatkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah khususnya di bidang kepariwisataan dan ekonomi kreatif," ujar Menparekraf Sandiaga Uno saat melakukan visitasi ke Desa Wisata Sukarame, Sabtu (2/10/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Menparekraf Sandiaga melihat langsung potensi yang dimiliki Desa Wisata Sukarame dalam menarik minat kunjungan wisatawan. Salah satunya adalah keberadaan batik khas Pandeglang yang didorong untuk terus dikembangkan.

Batik Pandeglang memiliki ciri khas yang unik. Bahkan terdapat 14 motif batik di setiap kecamatan di Pandeglang. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari motif-motif tersebut bahkan sudah terdaftar sejak Mei 2018 silam.

"Meski begitu, belum banyak yang tahu filosofi di balik motif itu. Oleh karenanya, kita harus dorong Batik Pandeglang ini agar bisa menembus skala nasional hingga internasional," ujar Menparekraf Sandiaga.

Desa Wisata Sukarame juga memiliki potensi kriya. Yakni kerajinan pahatan berbentuk badak, kerajinan dari bahan kerang, serta kerajinan dari olahan bambu khas Kabupaten Pandeglang.

Tak hanya di produk ekonomi kreatif, desa wisata ini juga memiliki daya tarik keindahan wisata alam. Salah satunya adalah wisata edukasi konservasi alam bawah laut. Di sini wisatawan dapat menikmati keindahan bawah laut sambil melakukan transplantasi terumbu karang.

Menparekraf Sandiaga sedianya melakukan transplantasi terumbu karang bersama dewan juri ADWI. Namun karena kendala cuaca, kegiatan tersebut urung dilakukan.

"Pak Kepala Desa, saya melihat dengan mata kepala sendiri dengan potensi wisata di Desa Sukarame, walaupun sedang hujan dan tidak dianjurkan untuk melihat sendiri, tapi saya mendapat laporan bahwa kondisinya sangat baik. Jadi, ini tidak mengurangi penilaian. Hujan ini membawa berkah, nanti hasilnya ke depan adalah yang terbaik buat Desa Wisata Sukarame, dan Kabupaten Pandeglang dan masyarakatnya," kata Sandiaga.

Sebagai bentuk dukungan pengembangan wisata edukasi konservasi alam bawah laut, Menparekraf memberikan bantuan berupa jaket pelampung, kacamata selam, snorkel, serta fins. Sebab, selama ini Desa Wisata Sukarame belum memiliki alat-alat tersebut untuk disewakan ke wisatawan.

Daya tarik wisata alam di Desa Wisata Sukarame juga diselaraskan dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal masyarakat dengan berbagai macam kegiatan wisata budaya. Seperti pertunjukan kesenian Tarian Dzikir Saman, Tarian Ahlan Wa Sahlan, Kendang Pencak, Rampak Bedug. Serta berbagai macam perayaan kebudayaan seperti Ngoclok (mancing gurita) juga Festival Perahu Ruat.

"Saya berharap Desa Wisata Sukarame terus berkembang sehingga dapat meningkatkan perekonomian lokal dan terus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal agar menjadi destinasi wisata yang berkelas dunia, berdaya saing dan berkelanjutan demi kesejahteraan rakyat untuk Indonesia Bangkit," kata Sandiaga. 

Di penghujung acara visitasi, Menparekraf Sandiaga melakukan pelepasan burung Endemik Jawa sebagai simbol keseimbangan alam di Desa Wisata Sukarame.

Turut mendampingi Menparekraf Sandiaga, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Vinsensius Jemadu; Staf Khusus Bidang Akuntabilitas, Pengawasan, dan Reformasi Birokrasi Kemenparekraf, Irjen Pol Krisnandi; dan Direktur Tata Kelola Destinasi, Indra Ni Tua.
Share :