Menetapkan Pariwisata Sebagai Leading Sector Pembangunan

BY

Sepuluh destinasi prioritas sebagai ‘Bali Baru’ akan menjadi destinasi kelas dunia (world class) sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global, yang  saat ini berada di ranking 42  dunia atau naik 8 poin.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya saat mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan kenegaraan ke Singapura, sekaligus  memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura, pada hari Rabu dan Kamis, September lalu,  mendapat kesempatan menjadi pembicara dalam forum investasi Indonesia-Singapura, seputar kebijakan pengembangan kepariwisataan Indonesia.

Menpar Arief memaparkan perkembangan pariwisata Indonesia terkini,  yakni jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 1,35 juta wisman. Dengan capaian ini optimis target 15 juta wisman akhir tahun 2017 akan terlampaui.  “Pertumbuhan pariwisata Indonesia sangat tinggi mencapai 22,4% per tahun dan menjadi top 20 in the world,” kata Arief Yahya.

Menurutnya, pemerintah Indonesia dalam program pembangunan lima tahun ke depan fokus pada sektor; infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata. Penetapan kelima sektor ini dengan pertimbangan signifikansi perannya dalam  jangka pendek, menengah, maupun panjang  terhadap pembangunan nasional. Dari lima sektor tersebut  pariwisata ditetapkan sebagai leading sector  karena dalam jangka pendek, menengah, dan panjang pertumbuhannya positif.

“Presiden Joko Widodo telah menempatkan pariwisata sebagai leading sector pembangunan. Maka seluruh Kementerian dan Lembaga mendukung pengembangan infrastruktur pariwisata, terutama di sepuluh destinasi yang biasa kami sebut dengan istilah ’10 Bali Baru,”  kata  Arief Yahya.

Penetepan 10 destinasi prioritas sebagai ‘Bali Baru’ (Danau Toba-Sumatera Utara; Tanjung Kelayang--Bangka Belitung; Tanjung Lesung-Banten; Kepulauan Seribu-DKI Jakarta; Candi Borobudur-Jawa Tengah; Bromo Tengger Semeru-JawaTimur; Mandalika-Lombok NTB; Labuan Bajo-Flores  NTT;  Wakatobi-Sulawesi Tenggara; dan Morotai-Maluku) merupakan upaya Indoenesia untuk meningkatkan kunjungan wisman yang harus naik menjadi dua kali lipat pada tahun 2014 sebanyak 104, juta wisman menjadi 20 juta wisman pada  2019.

Menurut Arief Yahya, sepuluh destinasi prioritas sebagai ‘Bali Baru’ ini akan menjadi destinasi kelas dunia (world class) sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonsia di tingkat global yang  saat ini berada di ranking 42  dunia atau naik 8 poin.

“Untuk menjadi world class destination kami akan menggunakan standar dunia terutama unsur Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas (3A). Kalau unsur atraksi,  sudah menuju ke arah sana bahkan  kami memiliki keunggulan terutama dalam hal nature,  culture , dan manmade,” kata Arief Yahya.

Saat ini pengembangan pariwisata Indonesia, kata Arief yahya, fokuskan pada amenitas dan aksesibilitas terutama infrastruktur bandara, penerbangan langsung, transportasi darat ke obyek wisata, maupun pelabuhan cruise dan yacth. Pemerintah Indonesia berusaha agar di tiap-tiap destinasi  di 10 destinasi prioritas tersebut  memiliki bandara internasional, dihubungkan jalan tol dan jalur kereta api, serta memiliki fasilitas pelabuhan standar internasional.

“Untuk amenitas saat ini kami akan percepat dengan membangun homestay desa wisata dengan desain menonjolkan budaya masyarakat setempat, namun berstandar dunia,” kata Menpar.

Kegiatan bilateral Investment Forum-Leaders’ Retreat  ini sebelumnya didahului dengan rangkaian kegiatan ‘The 1 st Joint Working Group Meeting (JWGM) on Tourism’ yang belangsung di Jakarta pada 14 Maret 2017 yang lalu yang membahas tiga topik utama yakni; kapal pesiar, MICE, dan investasi di bidang pariwisata.

Indonesia pada JWGM on Tourism tersebut meminta kepada operator cruise Singapura untuk dapat menaikkan dan menurunkan penumpangnya di 5 pelabuhan besar yaitu; Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Benoa, dan satu pelabuhan lain yang diusulkan yaitu Tanjung Mas Semarang sekaligus disiapkan  paket-paket wisatanya.

Sementara untuk promosi bersama bidang MICE diusulkan Bintan, Batam atau Karimun, sedangkan untuk investasi ditawarkan tiga  destinasi yang diminanti investor Singapura;  apakah Danau Toba, Mandalika atau Yogyakarta.

Dalam lima tahun terakhir kontribusi sektor pariwisata pada total realisasi investasi berada di level 2,2 persen atau Rp 51,2 triliun. Menurut data BKPM total investasi sektor pariwisata tahun 2016 sebesar Rp 15,0 triliun terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 2,2 triliun dan  Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 12,8 triliun.

Rencana Strategis

Sebagai industri jasa, sektor Pariwisata telah memberikan kontribusi dan peran strategis dalam pembangunan perekonomian nasional, pengembangan wilayah maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat, melalui kontribusi dalam menyumbangkan devisa, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, disamping peran sosial, budaya dan lingkungan dalam kerangka pelestarian sumber daya alam dan budaya, maupun dalam meningkatkan rasa cinta tanah air dan perekat persatuan bangsa.

Amanat Presiden Republik Indonesia, ialah,  Pariwisata Indonesia diharapkan dapat terus diperkuat dan dikembangkan menjadi sektor strategis dan pilar pembangunan perekonomian nasional serta akan dapat mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 20 juta dan pergerakan wisatawan nusantara sebesar 275 juta perjalanan pada tahun 2019 mendatang.

Untuk itu diperlukan strategi pengembangan yang disusun menjadi 3A yaitu Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas. Homestay merupakan konsep yang sangat sesuai untuk mendukung pengembangan amenitas pariwisata nasional, mengingat, potensi terbesar pariwisata Indonesia ialah budaya dan alam. Trend Homestay Desa Wisata akan sangat cocok untuk Indonesia yang memiliki keragaman dan 74.959 desa yang saat ini ada.

Konsep homestay memadukan antara penginapan dengan biaya terjangkau dan pengalaman budaya lokal yang otentik. Pengembangan homestay akan dilakukan dengan menggerakkan komunitas lokal di desa, sebagai bagian dari pengembangan Desa Wisata. Program ini diharapkan juga akan memiliki dampak positif yang lebih luas. 

Homestay Desa Wisata memiliki segi atraksi wisata dan segi amenitas. Segi atraksi wisata berarti bahwa memiliki daya tarik wisata khususnya wisata budaya dengan mengangkat kembali Arsitektur Tradisional Nusantara dan lokasinya yang berada di Desa Wisata sehingga wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Sedangkan segi amenitas berarti menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi masyarakat & wisatawan dengan pengelolaan Homestay berstandar Internasional.

 

Sumber: http://www.industry.co.id

Hubungi Kami


Statistik Kunjungan


Kontak Kami