Strategi Kemenpar Gaet Milenial Majukan Pariwisata

BY

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia usia 20 tahun hingga 40 tahun di tahun 2020 diduga berjumlah 83 juta jiwa atau 34% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa.

Menyadari hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berupaya untuk menarik kunjungan wisatawan milenial tersebut. Ia mengungkapkan ada tiga hal yang perlu diadakan untuk menarik kunjungan wisatawan milenial yakni TVC milenial, destinasi milenial, serta event milenial. Ketiganya harus memenuhi kebutuhan kaum milenial yakni kebutuhan untuk diakui di sosial media.

“Kaum milenial sebaiknya diberi kebebasan untuk menentukan sendiri konten publikasi, destinasi, dan event yang ingin mereka kunjungi,” ujar Menteri Pariwisata, Arief Yahya  dalam acara Millennials Tourism Corner.

Menurutnya, wisatawan milenial memiliki ‘power’ pasalnya mereka 'besar dan berisik' tapi belum dilayani dengan baik. Hal inilah yang akan dilakukan Kemenpar, yakni memfasilitasi kesediaan pariwisata terbaik bagi kaum milenial. Pasalnya, mereka bisa mempromosikan pariwisata dengan cara meng-upload foto destinasi yang dikunjungi. Dalam waktu yang sama, mereka juga bisa membangun ekosistem pariwisata.

Untuk menggaet milenial tersebut, kata Menpar cara untuk memasarkan pariwisatanya pun mengalami perubahan. Saat ini pihaknya memiliki komposisi 70% untuk pemasaran wisata melalui digital dan 30% konvensional media. “Kalau konsumennya berubah tetapi kita tidak berubah maka cepat atau lambat akan mati,” tegasnya.

 

 

Ketua Tim Percepatan Milenialls Kemenpar, Gabriella Patricia, mengatakan, tim yang dipimpinnya itu dibentuk untuk meningkatkan kunjungan wisatawan yang banyak dilakukan oleh kaum milenial. Kaum milenial diharapkan bukan hanya sebagai pelaku wisata tapi juga sebagai ekosistem pariwisata sehingga promosi pariwisata yang dilakukan bisa berdampak lebih besar lagi.

Menurutnya dengan mereka mengupload foto saat wisata ke social media dengan rutin maka bisa menjadi peluang pekerjaan yang sustain dan bisa menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas. Pasalnya Indonesia sangat kaya akan destinasi-destinasi wisata. Caranya dengan menggali destinasi wisata yang belum banyak orang ketahui. Kemudian mereka bisa melakukan diskusi dengan warga sekitar untuk mengetahui kebudayaan, kuliner dan adat istiadat di
sana.

“Jika mereka memiliki kemampuan menulis dan foto yang bagus ini akan menjadi peluang job bagi mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Co-Founder Tiket.com Gaery Undarsa mengatakan bahwa pertumbuhan kaum milenial begitu besar dan ia mempelajari kebiasaan mereka yaitu menyukai sesuatu yang mudah. Biasanya mereka lebih percaya rekomendasi dari teman dibanding iklan. Sehingga social media mempunyai pengaruh yang besar, karena biasanya mereka akan memposting kegiatannya saat berwisata.

Gaery mencontohkan ketika miles Production memilih Yogyakarta sebagai bagian dari cerita dalam film AADC 2. Tak hanya jumlah penonton yang begitu besar tetapi film tersebut juga berdampak kunjungan wisatawan ke kota Gudeg tersebut meningkat. Pasalnya mereka penasaran akan lokasi latar cerita film, seperti Gereja Ceker Ayam, Sellie Coffe, dan Greenhost Boutique Hotel.

“Ini bedanya, kalau dulu kita jalan-jalan mencari sesuatu yang membuat nyaman namun di era saat ini justru mereka mencari sesuatu yang baru,” jelasnya.[]

 

Sumber: www.swa.co.id

Hubungi Kami


Statistik Kunjungan


Kontak Kami