Tari Sangego dan Filosofi Kemajemukan di Festival Cisadane

BY

Pembukaan perhelatan Festival Cisadane 2019 yang di bantaran Sungai Cisadane, Kota Tangerang, kemarin (26/7/2019) berlangsung meriah. Acara yang berlangsung di sungai terbesar di Banten tersebut, dibuka dengan kemunculan parade perahu naga yang menyusuri sungai mulai dari Dermaga Peh Cun hingga Jembatan Apung. Selain parade perahu naga, sajian Tari Kolosal Sangego pada saat Opening Ceremony Festival Cisadane 2019 berhasil menarik perhatian warga Kota Tangerang dan pengunjung festival.

Tari Kolosal Sangego Sangego memiliki arti nama lain dari Bendungan Pintu Air 10. H. Yunus, pemimpin Sanggar Seni Puspa Kencana selaku pencipta Tari Kolosal Sangego menerangkan,   Sangego juga mempunyai arti aliran sungai yang membentang luas dan membelah kota, meliuk berkelok dari hulu sampai ke hilir. Nama Sangego sendiri berasal dari sebuah nama jembatan di Kota Tangerang yang menghubungkan beragam kegiatan, budaya,etnis di Kota Tangerang. 

Filosofi jembatan ini diartikan karena kemajemukan masyarakat Kota Tangerang dipisahkan Sungai Cisadane. Jadi, Sangego lah yang menghubungkan kemajemukan itu. Gerakan tari Sangego mengisahkan kegiatan sehari-hari masyarakat Kota Tangerang. Salah satu gerakan itu ialah gerakan mengambil air di Sungai yang sangat jelas gerakannya.

"Aliran Sungai Cisadane tertahan dan terbendung di Pasar Baru, pintu air sepuluh yang begitu kokoh dan begitu kuat menahan deras lajunya air. Sangego namamu kini terukir indah. Sangego memberi kehidupan bagi seluruh warga masyarakat di kota tangerang," jelasnya.

Tari Kolosal Sangego memiliki ceritanya sendiri. Terbentuk sekira lebih 3 tahun yang lalu. Berawal melihat keberadaan Bendungan Pintu Air 10 yang begitu megah dan membaca napak tilas sejarah dari pintu air 10 yang dibuat pada tahun 1921. Yunus mengucapkan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kota Tangerang yang sudah mempercayakan Sanggar Seni Puspa Kencana sejak tanun 2006. 

"Saya berharap Festival Cisadane yang sudah masuk agenda nasional ini, kedepannya bisa menampilkan para seniman dari Kota Tangerang," tutupnya.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menjelaskan, Festival Cisadane merupakan bentuk akulturasi budaya dan menjadi kegiatan kebanggaan masyarakat Kota Tangerang untuk menjaga keberlangsungan Sungai Cisadane. "Event ini jadi moment kebersamaan dan melestarikan serta menjaga keberlangsungan Sungai Cisadane dengan keberagaman budayanya," ungkap Walikota.

Arief menambahkan, berhasil masuknya Festival Cisadane dalam 100 Calender of Event Wonderful Indonesia Tahun 2019 menjadi kehormatan tersendiri bagi Pemkot Tangerang dan seluruh masyarakat

Sementara itu, Esthy Reko Astuty selaku Tenaga Ahli Menteri Bidang Management COE Kementerian Pariwisata RI menegaskan, terpilihnya Festival Cisadane menjadi 100 Calender of Event Wonderful Indonesia berdasarkan kriteria nilai budaya dan kreatifitas.

"Kita menilai dari tahun ketahun ini ada peningkatan kreativitas dan nilai komersial serta komunikasi dimana mengundang banyak wisatawan nusantara bahkan internasional," ucap Esthy.

Kementerian Pariwisata RI pun mendukung event ini dengan memberikan dukungan dana dan promosi yang bersifat multimedia menggunakan media social dan Generasi Pesona Indonesia. Esthy pun menilai Festival Cisadane dapat masuk kedalam 10 Calender of Event Wonderful Indonesia bila ada komitmen dari seluruh pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung.

"Bisa saja, asal ada komitmen baik dari pemerintah, dinas yang terlibat, stakeholder dan masyarakat itu sendiri," tukasnya.

Festival Cisadane tahun ini masih akan berlangsung hingga tanggal 3 Agustus 2019 dengan menghadirkan berbagai perlombaan seperti band, tari saman, street dance, senam, tinju dan pencak silat. Selain itu akan dimeriahkan pula oleh artis ternama yaitu Nidji dan Kotak.[]

Hubungi Kami


Statistik Kunjungan


Kontak Kami