Bimtek Pengembangan Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (SISPARNAS)

Bimtek Pengembangan Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (SISPARNAS)

Dinas Pariwisata Provinsi Banten melalui Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata melaksanakan Bimtek Pengembangan Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (SISPARNAS) yang dananya bersumber dari APBN Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KEMENPAREKRAF),  diselenggarakan pada tanggal 29-30 September 2022, di Hotel Royale Krakatau Kebondalem Kecamatan Purwakarta, kota Cilegon, Banten. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang mengedukasi peserta mengenai pemahaman atas pentingnya data dan informasi bagi pengembangan pariwisata dan juga melengkapi basis data kepariwisataan daerah serta data tersebut dapat dikelola secara digital dan terintegrasi dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Bapak H. AL HAMIDI,S.Sos, M.Si dan dipandu oleh moderator Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata yaitu Hj. Tunul Lasniatin S.pd, MM dengan Narasumber yaitu Ibu Nur Azizah Irawati dan bapak Haryono S.Kom dari Kemenparekraf, Bambang Widjonarko SP, MM dari Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. untuk Peserta yang hadir dalam kegiatan ini terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Banten, Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Serang, Dinas Pemuda Olahraga  dan Pariwisata Kabupaten Serang, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tangerang, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon, Dinas Pariwisata Kota Tangerang Selatan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Pokdarwis Provinsi Banten, Pokdarwis Kota Serang, Pokdarwis Kabupaten Serang, Pokdarwis Kabupaten Pandeglang, Pokdarwis Kabupaten Lebak, Pokdarwis Kabupaten Tangerang, Pokdarwis Kota Tangerang Selatan dan Pokdarwis Kota Tangerang.


Berdasarkan World Economic Forum (WEC), Travel Tourism Development Index (TTDI) 2021 peringkat Indonesia naik dari peringkat 40 menjadi 32 di tahun 2019. Ini adalah wujud dari program yang tepat sasaran, tepat manfaat dan tepat waktu. Ranking indeks pariwisata Indonesia saat ini naik 12 poin dari 117 negara di seluruh dunia. Indonesia saat ini berada di rangking 32, untuk tingkat Asia Pasifik menempati peringkat ke 8. TTDI sendiri berfungsi sebagai alat Benchmarking strategis untuk pembuat kebijakan, perusahaan, serta pelengkap sektor perjalanan dan pariwisata untuk memajukan pembangunan masa depan. Dampak TTDI terhadap sektor pariwisata tentu membangkitkan kepercayaan, meningkatkan kredibilitas dan mengukur posisi suatu negara dibangdingkan negara lain. meningkatkan indeks daya saing pariwisata merupakan salah satu target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno pernah menyampaikan ā€¯Peningkatan Indeks Pariwisata Indonesia sebagai Potensi menggaet investor, membuka peluang usaha, membangun hotel, membangun restoran, cafe, membangun kegiatan pariwisata berbasis berkelanjutan dan pariwisata yang berkualitasā€¯.

Undang Undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pasal 32 menyebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin ketersediaan dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pengembangan kepariwisataan. Pembangunan destinasi pariwisata daerah pada dasarnya merupakan kegiatan yang kompleks dalam meningkatkan baik kuantitas maupun kualitas layanan destinasi pariwisata kepada wisatawan. PP No. 50 Tahun 2011 Pasal 25 tentang arah kebijakan Pembangunan Prasarana Umum, Fasilitas Umum, dan Fasilitas Pariwisata meliputi: pengembangan, peningkatan dan pengendalian Prasarana Umum, Fasilitas Umum, dan Fasilitas Pariwisata dalam mendukung perintisan, pertumbuhan, meningkatkan kualitas, revitalisasi dan daya saing DPN (Destinasi Pariwisata Nasional). Dalam pelaksanaannya diperlukan data dan informasi yang memadai terkait kondisi kepariwisataan di daerah tersebut sebagai basis dari pengambilan kebijakan. Ketersediaan data dan informasi kepariwisataan daerah juga akan memudahkan wisatawan dalam mengakses informasi untuk menentukan rencana perjalanannya. Terdapat dua isu penting dalam menyediakan basis data kepariwisataan daerah yakni pengumpulan dan manajemen data kepariwisataan daerah.

Pusat Data & Informasi Kepariwisataan Nasional memiliki sumber data yang diinput secara mandiri oleh Pengelola Destinasi, Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi,Kabupaten/Kota, proses data dikembangkan dengan prinsip satu data pariwisata. Dinas Pariwisata Provinsi,Kabupaten/Kota memiliki Dashboard, Instrumen pengumpul data dan Perumusan Analisis Kepariwisataan Daerah. Kebijakan berdasarkan data analisis diharapkan mencapai target pariwisata nasional meliputi Kontribusi PDB nasional & regional, Peningkatan devisa pariwisata, Peningkatan jumlah tenaga kerja, Peningkatan indeks daya saing dan Peningkatan jumlah wisatawan asing & nasional.

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Dekonsentrasi Pengembangan Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional sebagai panduan/pedoman bagi para pelaksana baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pemangku kepentingan dalam melaksanakan kegiatan dekonsentrasi pengembangan sistem informasi kepariwisataan nasional mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi serta pelaporan. Para peserta dalam hal ini dituntut untuk melakukan pengumpulan data-data kepariwisataan kedalam bentuk dokumen atau format tertentu. Kemudian melakukan normalisasi data guna menyetarakan data menjadi satu bentuk yang sama agar data yang berbeda sumber bisa saling kompatibel satu sama lain. Selain itu  melakukan analisis data dengan melakukan perhitungan, metabulasi sumber data, memetakan data serta membandingkan data dan menelaahnya. Pengguna SISPARNAS bisa mengakses semua informasi dan data baik yang bersifat Data Terbuka maupun Data Tertutup sesuai dengan kebijakan yang di berikan oleh pengelola SISPARNAS. Data terbuka tersedia secara bebas untuk diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum digunakan ulang dan didistribusi ulang oleh siapapun sedangkan data tertutup bersifat membatasi yang hanya bisa di akses oleh Dinas Propinsi/Kota/Kabupaten atau pihak lain dengan ketentuan yang berlaku di SISPARNAS.

Bentuk program kegiatan bidang pengembangan destinasi pariwisata dalam mengedukasi peserta mengenai Pengembangan Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (SISPARNAS) bertujuan untuk Pemahaman dan Penguatan materi informasi terkait perkembangan aspek pariwisata dan ekonomi kreatif daerah, sebagai tools penyampaian kebutuhan pembangunan pariwisata daerah, mengukur tingkat daya saing pariwisata daerah sesuai indikator World Economic Forum dalam indikator Travel and Tourism Development Index (TTDI), Referensi dalam Perencanaan program dan anggaran pengembangan pariwisata antara Pusat dan Daerah dan lintas sektor dan Terjalinnya koordinasi dan kolaborasi antara pusat dan daerah. Selain itu terdapat nilai manfaat yang bisa didapat dari SISPARNAS yaitu Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa mendapatkan informasi peta perkembangan pembangunan destinasi pariwisata di regionalnya untuk pengambilan kebijakan pembangunan, pelaku bisnis mendapatkan informasi peta perkembangan pembangunan destinasi pariwisata yang dapat digunakan untuk pertimbangan perluasan pasar dan peluang investasi ke daerah, Masyarakat dan Pengelola Pariwisata mendapatkan wadah untuk dapat memperkenalkan sekaligus mempromosikan pariwisatanya. Selain itu juga menjadi sarana penyampaian situasi dan kondisi di destinasi wisata sebagai bahan masukan untuk pengambilan kebijakan oleh pemerintah.

Diharapkan dari kegiatan ini para peserta bersama-sama mewujudkan Indonesia sebagai negara dengan tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat, serta Destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, daerah dan masyarakat. Dengan lengkapnya data digital kepariwisataan daerah yang terdigitalisasi dari daerah sampai pusat maka diharapkan Indonesia siap memasuki transformasi industri digital pariwisata.

(riz/destinasi)


Share :